Mengapa berkarir di HRD/Personalia??

Human Resources Department atau biasa disebut HRD. Mungkin kebanyakan orang yang mendengar atau membaca kata-kata tersebut langsung terlintas di pikiran bahwa setiap orang yang bekerja atau mempunyai karir sebagai HRD adalah seorang yang memiliki gelar pendidikan dari Fakultas Psikologi/ Fakultas Hukum/ Fakultas Manajemen SDM. Pada prakteknya banyak kita jumpai disuatu perusahaan besar sampai kecil, bahwa banyak HRD Manager yang dipilih atau diangkat tanpa pernah memiliki pengalaman di bidangnya ternyata sukses dalam memimpin departemennya.

TIPS MENJADI HRD MANAGER

Menurut Steve Bates dalam tulisannya berjudul “No Experience Necessary” di HR Magazine yang mengutip hasil survey dari Center for Effective Organizations at the University of Southern California (USC) mengungkapkan bahwa seperempat (1/4) Top Eksekutif di bidang SDM pada perusahaan-perusahaan terkemuka di Amerika ternyata memulai pekerjaan mereka tanpa pernah memiliki pengalaman di bidang SDM. Tulisan Steve Bates semakin menguatkan dugaan bahwa memang perusahaan – perusahaan terkemuka di Amerika menempatkan orang yang memiliki background dari bidang lain seperti Hukum, Ekonomi, Perpajakan, Accounting, dan lain-lainnya untuk menempati posisi HRD Manager / Top Eksekutif HR.

Sedangkan di Indonesia, banyak perusahaan yang besar ataupun perusahaan yang sedang berkembang masih ada kecenderungan memilih orang untuk posisi HRD itu harus memiliki latar belakang Psikologi. Banyak yang beranggapan bahwa lebih memilih orang yang memiliki latar belakang Psikologi yang paling tepat untuk menempati posisi HRD dikarenakan memang sudah di didik untuk dapat membaca bagaimana sifat dari perilaku tiap individu, teknik wawancara, dan hal lainnya. Akan tetapi tidak memperkecil kemungkinan karena sesungguhnya masih ada beberapa perusahaan besar atau pun kecil yang ada di Indonesia menempatkan orang diposisi HRD dengan orang yang mempunyai background pendidikan lainnya.

PENGETAHUAN DASAR YANG HARUS DIMILIKI

Untuk menjadi seorang Human Resources Development (HRD), tentunya harus dapat membantu manajemen dalam menjembatani apabila ada terdapat konflik atau permasalahan-permasalahan yang timbul baik dilingkungan internal perusahaan maupun yang bersifat eksternal perusahaan, karena di dalam fungsi HRD ada namanya fungsi internal Relation dan Government Relation.

Jika fungsi internal dan eksternal relation dijalankan dengan baik, pasti keharmonisan antara manajemen dengan karyawan, manajemen dengan pemerintahan, manajemen dengan masyarakat akan langgeng maka terciptalah hubungan keharmonisan yang baik.

Tetapi, apakah fungsi internal relation dan government relation itu sudah cukup. TIDAK ! karena modal dasar seorang yang memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai HRD, harus mengerti dan memahami pengetahuan ilmu tentang Hukum seperti : Peraturan Pemerintah Daerah, Keputusan Menteri terkait (Ketenagakerjaan), Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003, Undang-Undang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (PPHI) No. 02 Tahun 2004 dan Undang-Undang Serikat Pekerja (Serikat buruh) No. 21 Tahun 2000 .

Modal dasar inilah yang harus di pahami betul-betul oleh seorang HRD, maka dengan mengetahui dan memahami tentang sistem peraturan yang ada di Indonesia ini, maka akan mempermudah dan membantu seorang HRD untuk membuat kebijakan-kebijakan perusahaan agar tidak bertentangan dengan peraturan pemerintah

Terakhir, seorang HRD pun harus “DIPAKSA” menggunakan EQ sebanyak 80% lebih besar dari IQ karena seorang HRD akan memiliki beberapa kemampuan:

  1. Self awareness (Kesadaran akan kekuatan (Strength), kelemahan (Weakness), ambisi (Ambition) dan kebutuhan (Need).
  2. Self Requlation (Kemampuan Mengontrol Emosi)
  3. Self Motivation (Kemampuan memotivasi diri sendiri)
  4. Empaty (Empati pada seseorang / orang lain)
  5. Social skill (Kemampuan bersosialisasi dengan orang lain).