Istilah Dalam CSR

Banyak istilah yang berkaitan dengan CSR. Bagian ini menjelaskan istilah termutakhir mengenai segala tentang CSR. Untuk memberikan masukan termasuk mengirim tambahan istilah CSR yang Anda anggap penting, dengan atau tanpa definisinya.

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Environmental Impact Analysis): Kegiatan pembandingan kondisi sosial dan lingkungan sebelum projek dilaksanakan dengan dampak yang diperkirakan terjadi kalau projek diwujudkan. Analisis ini bertujuan memutuskan apakah dari aspek sosial dan lingkungan projek tersebut layak dijalankan.

Audit Sosial (Social Audit): Kegiatan penilaian jarak kinerja sosial perusahaan dengan norma kinerja tertentu. Laporannya biasanya tidak saja mencakup kinerja sosial perusahaan, saran bagaimana kinerja ditingkatkan, serta memuat catatan metodologi –termasuk standar– yang digunakan untuk melakukan audit.

Ekologi (Ecology): (Ilmu yang mempelajari) hubungan antara berbagai komponen hidup dan yang tidak dalam lingkungan.

Etika Bisnis (Business Ethics): Posisi yang menyatakan perusahaan seharusnya beroperasi mengikuti norma-norma universal maupun partikular yang dianut masyarakat di mana bisnisnya dioperasikan.

FTSE4Good: Satu seri pembanding (benchmark) serta indeks panduang para pemilik modal ke perusahaan-perusahaan pemilik kinerja CSR yang tinggi. Perbandingan dan indeks yang dipergunakan terutama berkaitan dengan kinerja keberlanjutan lingkungan, hubungan dengan para pemangku kepentingan, serta penegakkan HAM.

Gerakan Lingkungan (Environmental Movement): Bagian dari gerakan sosial yang memperjuangkan nilai-nilai keadilan lingkungan, pewarisan keberlanjutan, dan estetika alam pada generasi mendatang.

Gerakan sosial (Social Movement): Gerakan sistematis dari kelompok masyarakat untuk memperjuangkan perubahan sosial yang diinginkan atau sebaliknya.

Global Compact: Standar sukarela code of conduct bagi perusahaan yang dikeluarkan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Global Reporting Initiative: Lembaga yang mempromosikan standar yang diciptakan untuk memberi arahan bagi perusahaan-perusahaan dalam menerbitkan laporan keberlanjutan atau tanggung jawab sosialnya.

Globalisasi (Globalization): Fenomena semakin terhubungnya komponen-komponen sosial dan ekonomi yang ada di seluruh dunia, yang dinyatakan sebagai keberlanjutan modernisasi atau perkembangan baru yang membedakan dengan modernisasi.

Hak-Hak Asasi Manusia (Human Rights): Hak universal yang dimiliki manusia semenjak kelahirannya, mencakup bebas dari penindasan, rasa takut, berkumpul, mengemukakan pendapat, memilih kepercayaan, serta keselamatan individu. Jaminan atas hak-hak ini dinyatakan dalam berbagai hukum internasional maupun nasional.

Indeks Keberlanjutan Dow Jones (Dow Jones Sustainability Index): Indeks yang memberi gambaran mengenai 10% perusahaan teratas di tiap kategori industri berkenaan dengan keberlanjutan. Informasi yang diberikan pada para penanam modal meliputi kinerja manajemen dan peluang keberlanjutan perusahaan-perusahaan itu.

Investasi Etis (Ethical Investment): Prinsip-prinsip yang digunakan para pemilik modal untuk memastikan investasinya hanya ditempatkan di perusahaan atau projek yang berkomitmen memiliki kinerja sosial dan lingkungan yang baik. Salah satu inisiatif paling terkenal berkenaan dengan hal ini adalah Socially Responsible Initiative.

Investasi Sosial (Social Investment): Tindakan perusahaan mencurahkan sebagian sumberdaya finansial, organisasi, dan manusia, untuk memperoleh dukungan masyarakat atas operasinya di lokasi tertentu.

Izin Sosial (Social License): Dukungan masyarakat terhadap operasi satu perusahaan di wilayahnya sebagai komplementer atas izin legal dari pemerintah.

Kamuflase Hijau (Greenwash): Upaya perusahaan memperoleh citra hijau walau capaian kinerja lingkungannya lebih rendah dibanding yang dicitrakan, dengan memberi informasi tak memadai atau bahkan menyesatkan.

Keadilan Lingkungan (Environmental Justice): Konsep normatif yang menyatakan akses terhadap jasa lingkungan seharusnya secara adil tersebar di antara masyarakat. Dengan demikian, kebutuhan dasar yang diperoleh tiap pihak dari lingkungan terjamin pemenuhannya.

Keanekaragaman Hayati (Biodiversity): Jumlah, varietas, dan variabilitas seluruh organisme yang hidup di suatu tempat atau di seluruh bumi, dari tingkatan genetik, spesies, hingga habitat.

Keberlanjutan Perusahaan (Corporate Sustainability): Kemampuan perusahaan beroperasi di dalam jangka sangat panjang dengan memastikan keseimbangan tujuan ekonomi dengan sosial dan lingkungan.

Kedermawanan Sosial Perusahaan (Corporate Philanthropy): Tindakan perusahaan dengan menyumbangkan sumberdaya finansial hingga berdampak pada citra positifnya di mata masyarakat luas.

Kemitraan Tiga Sektor (Tri-Sector Partnership): Pengaturan kelembagaan yang dilakukan hingga sektor bisnis, masyarakat sipil, dan pemerintahan memiliki wakil yang representatif dengan tujuan meningkatkan kemampuan mengatasi berbagai masalah sosial dan lingkungan yang ada di lokasi tertentu.

Kepatuhan (Compliance): Kesamaan antara tindakan dengan pedoman yang disepakati untuk dipergunakan. Pedoman di sini dapat berasal dari peraturan pemerintah, lembaga-lembaga lain, organisasi kumpulan perusahaan, maupun perusahaan sendiri.

Kewargaan Perusahaan (Corporate Citizenship): Seluruh penjumlahan hak dan kewajiban satu perusahaan berkenaan dengan operasinya, termasuk kewajiban menjamin hak-hak seluruh pemangku kepentingannya sebagai konsekuensi dari konsesi yang diperoleh.

Komunitas (Community): Kumpulan orang yang bermukim bersama di wilayah dan kurun waktu tertentu, memiliki identitas, dan sejumlah kepentingan yang sama.

Konsultasi Publik (Public Consultation): Proses pertukaran pandangan antara perusahaan dengan pemangku kepentingannya, untuk memastikan kebutuhan pemangku kepentingan adalah salah satu hal terpenting dalam putusan manajemen.

Manajemen Risiko (Risk Management): Upaya manajemen mengetahui kejadian atau tindakan yang berpotensi membawa dampak buruk bagi pencapaian tujuan perusahaan, serta untuk mengurangi potensi dampaknya.

Organisasi Non Pemerintah (Ornop): Organisasi formal yang memperjuangkan atau mencegah sebuah perubahan sosial dalam masyarakat. Sumberdaya organisasi yang diperolehnya terutama digunakan mencapai tujuan tersebut, bukan memperkaya para anggotanya, hingga sering pula disebut organisasi nirlaba (not for profit organization). Selain ciri-ciri itu, organisasi ini juga beranggotakan masyarakat sipil yang berada di ranah berbeda dengan pemerintah (governmental organization) dan bisnis (non governmental for profit organization), hingga sering pula dinyatakan sebagai organisasi masyarakat sipil (civil society organization) atau organisasi sektor ketiga (third sector organization).

Partisipasi (Participation): Kesadaran memberi ruang menentukan nasib bagi siapa pun yang terkena dampak aktivitas pembangunan. Semakin besar kekuasaan masyarakat yang terkena dampak dibanding pemrakarsa aktivitas pembangunan, makin tinggi tingkat partisipasinya.

Partisipasi Masyarakat (Community Participation): Pelibatan kelompok-kelompok maupun individu yang tinggal berdekatan dengan perusahaan dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi mereka, termasuk perumusan kebijakan, pembuatan prioritas, perencanaan kegiatan, pelaksanaan, serta pemantauan dan evaluasinya.

Pedoman Perilaku (Code of Conduct): Pernyataan formal mengenai nilai-nilai anutan serta tindakan yang diperbolehkan oleh suatu organisasi. Pedoman perilaku perusahaan biasanya diberlakukan ke seluruh organisasi yang terlibat di rantai produksi, seperti kontraktor, subkontraktor, serta pemasok.

Pelaporan (Reporting): Proses memproduksi serta menyebarluaskan laporan kinerja perusahaan berdasar standar dan format tertentu. Laporan kinerja perusahaan terutama ditujukan pada para pemangku kepentingannya.

Pelibatan Pemangku Kepentingan (Stakeholder Engagement): Upaya perusahaan melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan dengan operasinya dalam pengambilan keputusan, terutama menyangkut kepentingan bersama.

Pemangku Kepentingan (Stakeholder): Orang atau kelompok yang dapat memengaruhi atau terpengaruh kebijakan dan tindakan perusahaan dalam mencapai tujuannya. Para pemangku kepentingan biasanya ditandai dengan aspek-aspek seperti power (kekuataan memengaruhi perusahaan), legitimacy (dukungan masyarakat, etis, atau moral), urgency (dimensi waktu berkenaan dengan kapan tuntutan harus ditanggapi hingga perusahaan tidak terganggu tujuannya), serta proximity (kedekatan jarak geografis dengan operasi perusahaan).

Pembandingan (Benchmarking): Upaya membuat komparasi serta peringkat dari proses-proses, unit, bisnis atau antarperusahaan yang berbeda dengan menggunakan standar tertentu.

Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development): Pembangunan untuk pemenuhan kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang memenuhi kebutuhannya.

Pemetaan Pemangku Kepentingan (Stakeholder Mapping): Upaya perusahaan mengetahui pihak-pihak yang memengaruhi dan terpengaruh operasinya, serta untuk merancang pelibatannya dalam pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan mereka.

Pengembangan Kapasitas (Capacity Building): Jenis-jenis usaha untuk meningkatkan kemampuan individu atau organisasi, agar dapat menyusun rencana dan bekerja bagi kepentingan masa depannya.

Pengembangan Masyarakat (Community Development): Tindakan sistematik meningkatkan kemampuan masyarakat, terutama kelompok-kelompok yang paling tidak beruntung, untuk memenuhi kebutuhan sendiri berdasarkan potensi seluruh sumberdaya yang dapat diakses.

Pernyataan Misi (Mission Statement): Penjabaran dari pernyataan yang memuat kerangka bagaimana mewujudkan visi perusahaan atau disebut pula sebagai petunjuk “how-we-will-get-there”.

Pernyataan Visi (Vision Statement): Gambaran besar mengenai apa yang hendak dicapai, hingga perusahaan dapat mengetahui langkah-langkah bisnis yang ditempuh memang menuju ke arah tersebut.

Protokol Kyoto (Kyoto Protocol): Pakta yang dihasilkan negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1997 di Kyoto. Isi pakta ini menyetujui pengurangan emisi gas rumah kaca dari tingkat yang dihasilkan pada 1990 menjadi sebesar 5,2% antara 2008 hingga 2012. Protokol ini merupakan kesepakatan pertama upaya menurunkan gas rumah kaca yang mengikat secara hukum bagi seluruh negara penandatangan.

Risiko (Risk): Kejadian dan tindakan yang berpotensi membawa dampak buruk bagi kemampuan perusahaan mencapai tujuan-tujuan atau menjalankan strategi bisnisnya.

Sistem Manajemen Lingkungan (Environmental Management System): Sistem yang dibuat oleh atau untuk perusahaan dalam menjamin pencapaian kinerja lingkungan yang dinyatakan hendak dituju.

Suap (Bribery): Pemberian uang, barang, atau jasa, untuk memperoleh imbalan berupa keuntungan yang tidak sah di mata hukum.

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility –CSR): Upaya manajemen yang dijalankan entitas bisnis untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan berdasar keseimbangan ekonomi, sosial, dan lingkungan, dengan meminimumkan dampak negatif dan memaksimumkan dampak positif tiap pilar.

Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance): Sistem yang menjamin perusahaan mencapai tujuannya (melalui kewirausahaan, inovasi, pengembangan, dan eksplorasi) sekaligus memastikan akuntabilitas dan kontrol terhadap cara-cara yang dipergunakan.

Triple Bottom Line: Pengakuan atas kesetaraan tiga tujuan yang hendak dicapai perusahaan, yaitu ekonomi (finansial) dengan sosial dan lingkungan.

Verifikasi (Verification): Kegiatan yang dilakukan pihak ketiga yang kredibel dan independen untuk memastikan kesahihan dan kelengkapan laporan kinerja sosial dan lingkungan perusahaan. Beberapa pakar menyatakan istilah verifikasi memiliki kesamaan dengan assurance.